Bagaimana
Isu antara HTI dan Kalimat Tauhid Bergulir
Pembakaran bendera
berwarna hitam bertuliskan tauhid yang disebut bendera HTI di Garut, Jawa Barat
terus di pedebatkan, meski terduga pelaku telah di tangkap dan sejumlah ulama
mengeluarkan pandangan yang dianggap menyejukkan.
Pakar politik Islam,
Noorhaidi Hasan, menyebut publik idealnya menahan diri, termasuk di media
sosial, untuk tidak memperbesar peristiwa tanggal 22 Oktober itu ke berbagai
isu lain.
Noorhaidi berkata, pertentangan antarkelompok berpotensi meruncing karena ‘aksi
dibalas reeaksi’ oleh pihak yang saling berbeda pandangan.
“Kalau ada yang
mengambil tindakan, pasti akan muncul pembalasan,” kata Norhaidi, guru besar di
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat dihubungi, Rabu (24/10)
Sejak terjadinya
pembakaran bendera itu, pejabat tinggi pemerintahan telah menggelar rapat
khusus.
Polisi juga sudah menangkap sejumlah orang, sementara di beberapa kota,
muncul unjuk rasa protes.
Peristiwa itu terjadi
di Alun-alun Limbangan, Garut, pada Senin (22/10) di tengah peringatan Hari
Santri.
Kapolda Jawa Barat,
Irjen Agung Budi Maryoto, menyebut pembakar bendera berjumlah tiga orang,
berseragam Barisan Ansor Serbaguna (Banser).
Video pembakaran itu
beredar di media sosial, dan kemudian memancing berbagai reaksi panas.
Ketua Umum Pengurus
Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, membenarkan pembakaran bendera
itu merupakan anggota organisasinya.
Namun, kata Yaqut,
bendera yang di bakar merupakan simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),
organisasi yang dibubarkan pemerintah dan dinyatakan terlarang sejak Juli 2017.
Merujuk pemeriksaan
sejumlah saksi, Polda Jawa Barat pun menyebut yang dibakar itu merupakan
bendera HTI.
Sementara itu, Menko
Polhukam Wiranto menyebut bendera HTI juga terlihat pada peringatan Hari Santri
di kota lain, salah satunya Tasikmalaya.
Namun Juru Bicara HTI
yang sudah dibubarkan, Ismail Yusanto, dalam unggahan di akun Twitter miliknya
berkilah, bahwa itu bukan bendera milik sendiri.
“Saya perlu tegaskan
bahwa HTI tidak memiliki bendera, tuturnya.
Sesudah video
pembakaran beredar luas, unjuk rasa protes muncul di beberapa tempat, seperti
Jakarta, Solo, Garut.
Ratusan pendemo di
kota-kota itu juga terlihat membawa dan mengibarkan bendera yang tengah menjadi
polemik tersebut.
Pada hari yang sama,
Wiranto menyimpulkan sejumlah pejabat di kantornya, termasuk Kapolri Jenderal
Tit Karnavian. Sementara itu, pejabat Mabes Polri lainnya juga berembuk di
kantor Majelis Ulama Indonesia di Jakarta.
Dalam konferensi pers
kepada publik, dua pertemuan itu senada: meminta masyarakat tetap tenang dan
menghindari perpecahan antar umat Islam.
Pemerintah juga meminta
masyarakat memberi kesempatan kepada aparat untuk menindak dugaan perbuatan
kriminal dalam pembakaran bendera itu.
“Diharapkan masyarakat
tetap tenang dan tidak terpengaruh karena telah mendapatkan informasi yang
jelas dan dapat dipetanggungjawabkan,” kata Wiranto.
Tigs terduga pembakar
bendera di Garut diamankan di kantor Polda Jabar dengan status saksi. Polisi
mengklaim menahan mereka agar terhindar dari potensi kekerasan.
Kepada pers di Garut,
tiga anggota Banser itu mengaku menyesali perbuatan mereka.
“Saya meminta maaf
kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya umat Islam, apabila dengan
peristiwa ini menjadikan ketidaknyamanan,” kata salah satu dari terduga pelaku.
Wakil Kepala Polri,
Komjen Ari Dono Sukmanto, menyebut polisi masih menggali niat dan motif tiga
pembakar bendera itu.
Polisi akan meminta
keterangan dari sejumlah ahli agama dan pidana untuk melengkapi penyelidikan.
Di sisi lain,
kepolisian juga mencari orang pertama kali merekam dan menyebarkan video
pembakaran bendera di Garut ke media sosial.
Adapun sejumlah ormas
dalam Aliansi Umat Islam Pembela Tauhid Kabupaten Garut diklaim telah
mengadukan kasus ini ke polisi, atas tuduhan penistaan agama.
Polemik pembakaran
bendera di Garut diklaim mempertegas kajian yang dilakukan profesor kajian
politik Islam, Noorhaidi Hasan.
Penelitiannya tahun
2013 hingga tahun 2014 di provinsi menemukan kecenderungan, intoleransi yang berkembang
di Indonesia disebabkan keyakinan masyarakat kepada konspirasi atau informasi
yang kebenarannya diragukan.
“Masyarakat muslim
Indonesia selalu merasa terancam. Perasaan itu berasal dari kecemasan menjadi
korban musuh, yang bisa diidentifikasi sebagai kekuatan politik lain,” ujar
Noorhaidi.
Seiring berbagai ajang
politik yang digelar setiap tahun sejak 2014, Noorhaidi menyebut kecemasan dan
konspirasi itu berkembang ke ranah politik.
“Dulu ada konspirasi
zionis dari Barat, sekarang ada konspirasi tentang Cina yang bekerja sama
dengan kekuatan politik lokal.”
“Lawan politik
mempunyai kesempatam menggalang dukungan dengan mendengungkan perasaan terancam
itu,” kata Noorhaidi.
Merujuk kajiannya,
psikologi masyarakat ini dapat mengarah pada kejadian da peristiwa negatif,
bahkan hingga skala besar.
Untuk mencegah potensi
itu terjadi, kata Noorhaidi, kuncinya adalah kebijaksanaan pemerintah dan
keyakinan publik terhadap otoritas hukum.
“Dalam sejarah
Indonesia, itu bisa mengarah ke situasi yang lebih buruk. Tapi semoga sikap
bijak pemerintah bisa meredakan kemarahan berbagai kelompok.”
“Seharusnya tidak ada
yang main hakim sendiri. Penegakan hukum yang melakukan negara, kita mempunyai
polisi. Kalau ada yang mengambil tindakan, pasti akan muncul pembalasan,” tuturnya.
Udah bagus ni, tapi lebih baik paragrafnya menjorok ke dalam ya😊
BalasHapusbukannya kalau udh ada spasi antar paragraf gk usah menjorok shan
HapusBagus ni
BalasHapusbagus.. setuju ni
BalasHapusBagus, keren ni
BalasHapusSetuju bgt!! Good job anii
BalasHapusLanjutkan berkarya!!
Bagus nii,lanjutkan yaa
BalasHapusBagus anii :)
BalasHapusWawasan baru (y) ... semoga ke depan nya bisa terus berbagi wawasan . Tidak hanya untuk tugas saja :)
BalasHapusWawasan baru (y) ... semoga ke depan nya bisa terus berbagi wawasan . Tidak hanya untuk tugas saja :)
BalasHapusWawasan baru (y) ... semoga ke depan nya bisa terus berbagi wawasan . Tidak hanya untuk tugas saja :)
BalasHapusBetul-betul
BalasHapusGood,lanjutkan dlm berkarya
BalasHapusGood,lanjutkan dlm berkarya
BalasHapusBaguss lanjutkan anii 🖒
BalasHapusBaguss lanjutkan anii 🖒
BalasHapusEkhm... Setuju
BalasHapusBagus teh set7
BalasHapus