Selasa, 26 Februari 2019

Artikel Fenomena Alam

Gerhana, Bukan Fenomena Alam Biasa


 


Islam hadir menyikapi pandangan masyarakat tentang banyak hal. Diantaranya pandangan masyarakat Arab pra-Islam tentang gerhana matahari dan bulan. Masyarakat Arab pra-Islam memandang gerhana sebagai sesuatu yang menakutkan. Gerhana adalah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi, baik dari kematian maupun kelahiran.

Gerhana matahari dan bulan adalah salah satu kekuasaan Allah SWT yang ditunjukkan kepada umat manusia. Menurut Al-Qur’an, gerhana tidak di jelaskan secara terperinci, dalam surah Yunus ayat 5, menegaskan bahwa Allah SWT membuat matahari besinar dan bulan bercahaya sebagai manzilah dari Allah SWT.

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan–Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran–Nya) kepada orang orang yang mengetahui.” (QS. Yunus : 5)

Dari ketentuan yang terdapat dalam surah Yunus ayat 5, manusia diharapkan mengetahui bilangan dan perhitungan waktu, hal itu menjadi salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

Persoalan gerhana dijelaskan secara jelas dalam hadist, Nabi Muhammad SAW besabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua ayat (tanda) dari ayat-ayat Allah (yang tersebar di alam semesta). Tidak akan terjadi fenomena gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoa dan shalat kepada Allah   sampai (matahari dan bulan) tersingkap lagi.” (HR. Bukhari – Muslim)

Sahabat Rasulullah SAW, Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliaupun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”

Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita bahwa fenomena gerhana matahari dan bulan bukanlah peristiwa biasa. Kehadiran gerhana mengandung arti, makna dan hikmah serta pesan-pesan tersendiri kepada umat Islam dan manusia di bumi.

Dalam suatu peristiwa yang disampaikan melalui hadist, Nabi Muhammad SAW sampai berdiri dan khawatir bila fenomena gerhana menjadi tanda-tanda datangnya hari akhir atau kiamat.

Diriwayatkan dai Hudzaifah, bahwa ia bercerita, “Kami sedang duduk-duduk di bawah naungan sebuah tembok di Madinah. Sementara Rasulullah, berada di dalam kamar. Beliau menengok kami dan bertanya, “Sedang apa kalian duduk-duduk disitu?” Kami menjawab, “Sedang berbincang-bincang.” Beliau bertanya, “Tentang apa?” Kami menjawab, “Tentang kiamat.”

Beliau bersabda, “Kiamat tidak akan tiba sebelum kalian melihat 10 tandanya. Pertama-tama ialah matahari terbit dari barat, kabut, dajjal, binatang melata, lalu tiga perisiwa gerhana bulan (yakni gerhana yang terjadi di sebelah timur, gerhana yang terjadi di sebelah barat, dan gerhana yang terjadi di semenanjung Arab). Lalu, datangnya Isa, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, dan terakhir ialah munculnya api dari Yaman di sebuah jurang ‘Aden. Siapa pun yang berada di belakangnya, ia akan di giring ke padang mahsyar.”

Dari fenomena gerhana matahari dan bulan tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umat Islam untuk melakukan shalat gerhana.

“Dan dari sebagian tanda-tanya-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah yang Menciptakan keduanya.” (QS. Fushilat : 37)

Ustadz Abdul Somad berujar bahwa umat Islam di perintahkan untuk melaksanakan shalat khusuf atau shalat gerhana ketika fenomena alam tu terjadi. Di sebagian tradisi kalau bulan nampak gerhana, maka di pukullah sendok, mangkuk, piring. Kenapa? Karena bulan sedang di makan ular naga. Maka biar bulan dimuntahkan di pukul-pukul. Itu khurafat, dusta, dan bohong.

Shalat gerhana atau sering disebut dengan shalat kusuf (gerhana matahari) atau shalat khusuf (gerhana bulan). Selain itu, umat muslim di minta untuk beristighfar memohon ampunan kepada Allah, berdoa supaya diberi kelamatan, menyerukan takbir sebagai tanda kebesaran Allah SWT, dzikir untuk mengingat Allah SWT, bershadaqah, dan melakukan amal kebaikan.

11 komentar: