Gerhana,
Bukan Fenomena Alam Biasa
Islam hadir menyikapi pandangan
masyarakat tentang banyak hal. Diantaranya pandangan masyarakat Arab pra-Islam
tentang gerhana matahari dan bulan. Masyarakat Arab pra-Islam memandang gerhana
sebagai sesuatu yang menakutkan. Gerhana adalah pertanda sesuatu yang buruk
akan terjadi, baik dari kematian maupun kelahiran.
Gerhana matahari dan bulan adalah salah
satu kekuasaan Allah SWT yang ditunjukkan kepada umat manusia. Menurut
Al-Qur’an, gerhana tidak di jelaskan secara terperinci, dalam surah Yunus ayat
5, menegaskan bahwa Allah SWT membuat matahari besinar dan bulan bercahaya
sebagai manzilah dari Allah SWT.
“Dialah yang menjadikan matahari
bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan–Nya manzilah-manzilah
(tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan
tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu
melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran–Nya) kepada orang
orang yang mengetahui.” (QS. Yunus : 5)
Dari ketentuan yang terdapat dalam surah
Yunus ayat 5, manusia diharapkan mengetahui bilangan dan perhitungan waktu, hal
itu menjadi salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Persoalan gerhana dijelaskan secara
jelas dalam hadist, Nabi Muhammad SAW besabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan
merupakan dua ayat (tanda) dari ayat-ayat Allah (yang tersebar di alam
semesta). Tidak akan terjadi fenomena gerhana matahari dan bulan karena
kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian
melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoa dan shalat kepada Allah sampai (matahari dan bulan) tersingkap
lagi.” (HR. Bukhari – Muslim)
Sahabat Rasulullah SAW, Abu Musa
Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Pernah terjadi gerhana
matahari pada zaman Rasulullah SAW. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir
akan terjadi hari kiamat, sehingga beliaupun mendatangi masjid kemudian beliau
mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah
melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”
Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita
bahwa fenomena gerhana matahari dan bulan bukanlah peristiwa biasa. Kehadiran
gerhana mengandung arti, makna dan hikmah serta pesan-pesan tersendiri kepada
umat Islam dan manusia di bumi.
Dalam suatu peristiwa yang disampaikan
melalui hadist, Nabi Muhammad SAW sampai berdiri dan khawatir bila fenomena
gerhana menjadi tanda-tanda datangnya hari akhir atau kiamat.
Diriwayatkan dai Hudzaifah, bahwa ia
bercerita, “Kami sedang duduk-duduk di bawah naungan sebuah tembok di Madinah.
Sementara Rasulullah, berada di dalam kamar. Beliau menengok kami dan bertanya,
“Sedang apa kalian duduk-duduk disitu?” Kami menjawab, “Sedang
berbincang-bincang.” Beliau bertanya, “Tentang apa?” Kami menjawab, “Tentang
kiamat.”
Beliau bersabda, “Kiamat tidak akan tiba
sebelum kalian melihat 10 tandanya. Pertama-tama ialah matahari terbit dari
barat, kabut, dajjal, binatang melata, lalu tiga perisiwa gerhana bulan (yakni
gerhana yang terjadi di sebelah timur, gerhana yang terjadi di sebelah barat,
dan gerhana yang terjadi di semenanjung Arab). Lalu, datangnya Isa, keluarnya
Ya’juj dan Ma’juj, dan terakhir ialah munculnya api dari Yaman di sebuah jurang
‘Aden. Siapa pun yang berada di belakangnya, ia akan di giring ke padang
mahsyar.”
Dari fenomena gerhana matahari dan bulan
tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umat Islam untuk melakukan shalat
gerhana.
“Dan dari sebagian tanda-tanya-Nya
adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu
sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah yang Menciptakan
keduanya.” (QS. Fushilat : 37)
Ustadz Abdul Somad berujar bahwa umat
Islam di perintahkan untuk melaksanakan shalat khusuf atau shalat gerhana
ketika fenomena alam tu terjadi. Di sebagian tradisi kalau bulan nampak
gerhana, maka di pukullah sendok, mangkuk, piring. Kenapa? Karena bulan sedang
di makan ular naga. Maka biar bulan dimuntahkan di pukul-pukul. Itu khurafat,
dusta, dan bohong.
Shalat gerhana atau sering disebut
dengan shalat kusuf (gerhana matahari) atau shalat khusuf (gerhana bulan).
Selain itu, umat muslim di minta untuk beristighfar memohon ampunan kepada
Allah, berdoa supaya diberi kelamatan, menyerukan takbir sebagai tanda
kebesaran Allah SWT, dzikir untuk mengingat Allah SWT, bershadaqah, dan
melakukan amal kebaikan.

Masyaallah. Bagus ni, lanjutkan
BalasHapusMakasih info nya
BalasHapusbagus.. sangat bermanfaatπ
BalasHapusTerimakasih infonya.πππ
BalasHapusBagus ani, terimakasih infonya
BalasHapusThaks anii infonya π
BalasHapusSubahanallah, bermanfaat ani makasih :))
BalasHapusTerimakasii infonya anii
BalasHapusMasya allah , sangat bermanfaat semoga berkah ilmu nya . Lanjutkan (y)
BalasHapusMakasih info nya anii π
BalasHapusBagus,mudah mudahan bermanfaat
BalasHapus