Selasa, 19 Februari 2019

Cerita Pendek



Meraih Bintang Bersinar

Setelah selesai menempuh pendidikan SD, aku mencari dan mendaftar ke sekolah SMP/sederajat dan bingung ingin melanjutkan kemana. Akhirnya aku memilih bersekolah di MTs Al-Anshor yang letaknya tak jauh dari rumahku.
Hari pertama bersekolah tiba, aku berkumpul di lapangan untuk mendengarkan sambutan dari kepala sekolah kepada murid-murid baru dan mendengarkan arahan yang diberikan. Di lapangan, aku bertemu dengan teman-teman yang satu SD denganku dan kebetulan masuk MTs yang sama. Aku sangat bersyukur ada teman yang aku kenal untuk aku ajak bicara, karena hari itu adalah hari pertama masuk sekolah baru, sehingga dari seluruh murid belum ada seorang pun yang aku kenal.
Pagi itu sangat cerah berawan dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, tibalah saatnya pemberitahuan pembagian kelas, semua murid memasuki kelas nya masing-masing. Saat aku akan memasuki ruang kelas, aku sempat berbincang dengan kakak kelas agar mendapat info tentang sekolah baruku ini. Tak lama kemudian aku mulai melihat seorang siswi perempuan yang sedang duduk sendirian di pojok kanan depan dari arah pintu kelas, aku menghampiri siswi tersebut dan aku duduk bersamanya hingga kamipun berkenalan.
Hari terus berlalu, angin menghembuskan tiupannya dengan tenang, mentari yang menghangatkan kami di pagi hari, pemandangan sawah yang ada di sekitar kamipun menunjukkan keindahannya seperti indahnya persahabatan kami. Persahabatan yang membawaku menuju pribadi yang lebih baik dengan ketakwaan dan niat baiknya dalam membimbingku. Semakin lama, aku kian merasakan perubahan yang terjadi dalam hidupku ketika aku berkenalan dengannya dari awal masuk sekolah hingga kini tahun ajaran yang akan segera berganti.
Pernah suatu ketika, ketika aku merasa bimbang, risau, gelisah dengan pembelajaranku yang tak sebaik dia. Aku merasakan keputusasaan menghampiri pikiranku. Aku katakan kepadanya hal yang membuat pikiran aku mejadi seperti ini. Aku mulai menceritakan bahwa di masa lalu tepatnya saat SD, pergaulanku tidak sebaik sekarang, dulu aku termasuk orang yang sangat durhaka terhadap orang tua, aku tidak mendengarkan pekataan orang tua akan nasihatnya, aku lalai terhadap sholat, aku tidak peduli dengan mereka terhadap apa saja yang telah aku lakukan. Orang tua ku sangat sabar dan tegas dalam mendidik nilai keagamaan terhadap anak-anaknya. Tetapi, tetap saja saat itu kelakuanku bukannya bertambah baik, bahkan bertambah buruk. Hingga pada suatu hari tepatnya saat aku berusia 12 tahun, Ibuku terkena penyakit asma. Dalam kondisi ibu yang sedang sakit dan ditemani Ayah, ibu berpesan agar aku dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ibu berkata, “Kamu lah yang akan menjadi investasi ibu di akhirat kelak. Jika kamu baik, menjadi pribadi yang sholeh, kelak Ibu dan Ayah akan berbahagia di alam yang kekal.” Dan tidak lama kemudian keesokan harinya selepas sholat subuh, Ibu di panggil dengan tiba-tiba oleh sang Khaliq untuk menghadapnya. Aku merasakan kehilangan dan kesedihan yang sangat mendalam ketika itu, dan kesedihanku pun bertambah setelah selang beberapa minggu kemudian, Ayah ku pun menyusul ibu dengan tenangnya. Ayah selalu berpesan kepadaku agar aku dapat berubah dan menjadi anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuaku. Lalu aku ingin hatiku menjadi tentram dengan kejadian itu, tolonglah aku, Sahabatku...
Setelah aku menceritakan kejadian itu, Syarifatul Bariyyah. Ya, ialah sahabatku, sahabat terbaikku. Rifa mulai menasihatiku, ia berkata, “Sahabatku, setiap orang pasti mempunyai masa lalu, masa lalu yang indah ataupun sebaliknya. Ini semua merupakan jalan dari Allah untuk kamu, agar kamu dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari masa lalumu. Percayalah sahabatku, Allah tidak akan memberi cobaan terhadap hambanya, kecuali ia sanggup menghadapinya. Perkataan orang tuamu sangatlah baik untuk kehidupanmu kelak. Mereka sangat menyayangimu, mereka bersabar atas perbuatanmu yang sangat menyakiti hati mereka pada masa lalu. Kini sudah saatnya kamu hijrah, perbaiki akhlak dan perbuatanmu. Buatlah orang tuamu bangga dengan hijrahmu saat ini. Buat mereka tersenyum di Syurga karena doa dan kebaikan yang kau lakukan saat ini. Walaupun mereka sudah tiada, doa dan permohonan maafmu pada mereka tidak mungkin tak akan di dengar oleh Allah, maka berusahalah dengan semaksimal mungkin, Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat. Kelak kamu pun akan bertemu dan berkumpul kelak bersama orang-orang yang kita cintai. Aamiin” Dengan perasaan yang membuat hatiku haru mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya, dengan begitu mudah aku menitikkan air mata dan memeluk sahabatku dengan erat. Lalu aku katakan padanya, “Bimbing aku agar aku dapat membahagiakan kedua orang tua ku.” “Tentu saja, mari kita sama-sama belajar untuk memperbaiki diri kita” ia membalasnya dengan suara yang lirih.
Dengan aku menceritakan kejadian itu pada Rifa, sahabatku, hatiku menjadi tentram dan bahagia. Rifa mengajariku bagaimana kita menjadi pribadi yang takwa (menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya) dengan sabar, ia mengajariku bagaimana agar dapat belajar dengan baik serta menuai prestasi, semua hal baik yang terdapat dalam diri Rifa, ia amalkan kepadaku. Dengan keuletan Rifa dalam membimbingku, aku kini telah berubah dari pribadiku yang dahulu. Tak ku sangka, prestasi ku di sekolah hampir sama dengan sahabatku yang membuahkan hasil yang optimal sehingga aku dapat meneruskan ke sekolah yang menjadi impian bagi para siswa untuk masuk ke sekolah tersebut, dan sahabatku memilih untuk memasuki pesantren yang menjadi pesantren impian bagi para santri yang ingin masuk ke pesantren tersebut. Kami berhasil memasuki sekolah impian kami melalui jalur beasiswa.
Kami bersyukur sekali karena selama kami bersahabat, kami mendapat banyak hal yang dilalui bersama, berjuang bersama-sama dalam menghadapi kesulitan, bertahan dalam menghadapi cobaan yang menerpa, serta saling menguatkan dalam menghadapi cobaan. Kini kami bertekad bersama, agar cita-cita dan keinginan kami tercapai dan tetap bersahabat hingga di akhirat kelak. Aamiin..

4 komentar: