Meraih Bintang Bersinar
Setelah
selesai menempuh pendidikan SD, aku mencari dan mendaftar ke sekolah
SMP/sederajat dan bingung ingin melanjutkan kemana. Akhirnya aku memilih
bersekolah di MTs Al-Anshor yang letaknya tak jauh dari rumahku.
Hari pertama
bersekolah tiba, aku berkumpul di lapangan untuk mendengarkan sambutan dari
kepala sekolah kepada murid-murid baru dan mendengarkan arahan yang diberikan.
Di lapangan, aku bertemu dengan teman-teman yang satu SD denganku dan kebetulan
masuk MTs yang sama. Aku sangat bersyukur ada teman yang aku kenal untuk aku
ajak bicara, karena hari itu adalah hari pertama masuk sekolah baru, sehingga
dari seluruh murid belum ada seorang pun yang aku kenal.
Pagi itu
sangat cerah berawan dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, tibalah
saatnya pemberitahuan pembagian kelas, semua murid memasuki kelas nya
masing-masing. Saat aku akan memasuki ruang kelas, aku sempat berbincang dengan
kakak kelas agar mendapat info tentang sekolah baruku ini. Tak lama kemudian
aku mulai melihat seorang siswi perempuan yang sedang duduk sendirian di pojok
kanan depan dari arah pintu kelas, aku menghampiri siswi tersebut dan aku duduk
bersamanya hingga kamipun berkenalan.
Hari terus
berlalu, angin menghembuskan tiupannya dengan tenang, mentari yang
menghangatkan kami di pagi hari, pemandangan sawah yang ada di sekitar kamipun
menunjukkan keindahannya seperti indahnya persahabatan kami. Persahabatan yang
membawaku menuju pribadi yang lebih baik dengan ketakwaan dan niat baiknya
dalam membimbingku. Semakin lama, aku kian merasakan perubahan yang terjadi
dalam hidupku ketika aku berkenalan dengannya dari awal masuk sekolah hingga
kini tahun ajaran yang akan segera berganti.
Pernah suatu
ketika, ketika aku merasa bimbang, risau, gelisah dengan pembelajaranku yang
tak sebaik dia. Aku merasakan keputusasaan menghampiri pikiranku. Aku katakan
kepadanya hal yang membuat pikiran aku mejadi seperti ini. Aku mulai
menceritakan bahwa di masa lalu tepatnya saat SD, pergaulanku tidak sebaik
sekarang, dulu aku termasuk orang yang sangat durhaka terhadap orang tua, aku
tidak mendengarkan pekataan orang tua akan nasihatnya, aku lalai terhadap
sholat, aku tidak peduli dengan mereka terhadap apa saja yang telah aku
lakukan. Orang tua ku sangat sabar dan tegas dalam mendidik nilai keagamaan
terhadap anak-anaknya. Tetapi, tetap saja saat itu kelakuanku bukannya
bertambah baik, bahkan bertambah buruk. Hingga pada suatu hari tepatnya saat
aku berusia 12 tahun, Ibuku terkena penyakit asma. Dalam kondisi ibu yang sedang
sakit dan ditemani Ayah, ibu berpesan agar aku dapat berubah menjadi pribadi
yang lebih baik lagi. Ibu berkata, “Kamu lah yang akan menjadi investasi ibu di
akhirat kelak. Jika kamu baik, menjadi pribadi yang sholeh, kelak Ibu dan Ayah
akan berbahagia di alam yang kekal.” Dan tidak lama kemudian keesokan harinya
selepas sholat subuh, Ibu di panggil dengan tiba-tiba oleh sang Khaliq untuk
menghadapnya. Aku merasakan kehilangan dan kesedihan yang sangat mendalam
ketika itu, dan kesedihanku pun bertambah setelah selang beberapa minggu
kemudian, Ayah ku pun menyusul ibu dengan tenangnya. Ayah selalu berpesan
kepadaku agar aku dapat berubah dan menjadi anak sholeh yang selalu mendoakan
kedua orang tuaku. Lalu aku ingin hatiku menjadi tentram dengan kejadian itu,
tolonglah aku, Sahabatku...
Setelah aku
menceritakan kejadian itu, Syarifatul Bariyyah. Ya, ialah sahabatku, sahabat
terbaikku. Rifa mulai menasihatiku, ia berkata, “Sahabatku, setiap orang pasti
mempunyai masa lalu, masa lalu yang indah ataupun sebaliknya. Ini semua
merupakan jalan dari Allah untuk kamu, agar kamu dapat menjadi pribadi yang
jauh lebih baik dari masa lalumu. Percayalah sahabatku, Allah tidak akan
memberi cobaan terhadap hambanya, kecuali ia sanggup menghadapinya. Perkataan
orang tuamu sangatlah baik untuk kehidupanmu kelak. Mereka sangat menyayangimu,
mereka bersabar atas perbuatanmu yang sangat menyakiti hati mereka pada masa
lalu. Kini sudah saatnya kamu hijrah, perbaiki akhlak dan perbuatanmu. Buatlah
orang tuamu bangga dengan hijrahmu saat ini. Buat mereka tersenyum di Syurga
karena doa dan kebaikan yang kau lakukan saat ini. Walaupun mereka sudah tiada,
doa dan permohonan maafmu pada mereka tidak mungkin tak akan di dengar oleh
Allah, maka berusahalah dengan semaksimal mungkin, Allah Maha Pengampun, Maha
Penerima Taubat. Kelak kamu pun akan bertemu dan berkumpul kelak bersama
orang-orang yang kita cintai. Aamiin” Dengan perasaan yang membuat hatiku haru
mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya, dengan begitu mudah aku menitikkan
air mata dan memeluk sahabatku dengan erat. Lalu aku katakan padanya, “Bimbing
aku agar aku dapat membahagiakan kedua orang tua ku.” “Tentu saja, mari kita
sama-sama belajar untuk memperbaiki diri kita” ia membalasnya dengan suara yang
lirih.
Dengan aku
menceritakan kejadian itu pada Rifa, sahabatku, hatiku menjadi tentram dan
bahagia. Rifa mengajariku bagaimana kita menjadi pribadi yang takwa
(menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya) dengan sabar, ia
mengajariku bagaimana agar dapat belajar dengan baik serta menuai prestasi,
semua hal baik yang terdapat dalam diri Rifa, ia amalkan kepadaku. Dengan
keuletan Rifa dalam membimbingku, aku kini telah berubah dari pribadiku yang
dahulu. Tak ku sangka, prestasi ku di sekolah hampir sama dengan sahabatku yang
membuahkan hasil yang optimal sehingga aku dapat meneruskan ke sekolah yang
menjadi impian bagi para siswa untuk masuk ke sekolah tersebut, dan sahabatku
memilih untuk memasuki pesantren yang menjadi pesantren impian bagi para santri
yang ingin masuk ke pesantren tersebut. Kami berhasil memasuki sekolah impian
kami melalui jalur beasiswa.
Kami
bersyukur sekali karena selama kami bersahabat, kami mendapat banyak hal yang
dilalui bersama, berjuang bersama-sama dalam menghadapi kesulitan, bertahan
dalam menghadapi cobaan yang menerpa, serta saling menguatkan dalam menghadapi
cobaan. Kini kami bertekad bersama, agar cita-cita dan keinginan kami tercapai
dan tetap bersahabat hingga di akhirat kelak. Aamiin..
Sukaaaa💕💕
BalasHapusSuka ceritanya😍
BalasHapusMantap ani
BalasHapusTerbaik (y) lanjutkan
BalasHapus